Velon.

Jovi.
 
2 bule yang hidup di negeri orang, di Indonesia-Jakarta tepatnya. Belum lama, baru 4bulan lewat seperempat minggu, 8jam 20menit 22detik. 
Mencoba bergaul dengan adat Indonesia, tapi belum cukup mampu untuk menggaulinya.
 
Mereka bukan pengangguran, tapi TPA (Tenaga Pekerja Asing), guru di suatu institut sebut saja institut Watayo. Velon asal negara inggris, 27tahun, tipe bule penyuka wanita asia, maniak party, penggila bir, dengan perut aga buncit, tipe muka 11-12 michael coulcin. Sedangkan Jovi seperti guardian angel bagi Velon. Jovi asal negara Amerika, ibu Perancis bapak Canada, 29tahun, tipe bule jayus, tinggi, penyuka bir hanya tidak menggilai bir Indonesia (menurutnya bir Indonesia ngebuat besok harinya setelah minum mukanya jadi aga bengep), cukup bijaksana, dan tetep gila party juga.
 
Bagi Velon, Indonesia dimata dia itu suram. Banyak pengemis, daerah kumuh, dangdut, macet, dan cewe-cewenya suka bule (ga semua juga kali lon, pede deh loh)
 
Nah, si velon ini tabiatnya adalah mencari pengalaman baru di Indonesia ini, seperti ketempat-tempat yang menurut dia Indonesia banget salah satunya adalah panggung dangdut. Dan dia menemukan salah satunya di daerah Jakarta Utara-Sunter tepatnya. Dia berpetualang sendiri, seorang bule yang bahasa Indonesianya masih acak kadul menuju tempat seperti itu seorang diri, ya dan benar kalo semua cewe berdada besar seneng karna Velon bule, fikirnya pasti bule petualang yang punya banyak duit.
 
Jovi, cukup susah menfasirkan bule satu ini ke dalam tulisan sih, doi cukup moody-an orangnya. Dan yang pasti susah untuk ditebak. Cuma kali ini doi punya satu temen deket beda dari velon yang apa-apa lebih seneng sama random person yang dia temui, dan yang dimaksud kali ini muridnya? Huuh, dan cewe. Namanya Ciya, 24 tahun Single. Pertama kenal ya karna velon sih sebenernya, Ciya ngajak velon dan velon ngajak Jovi ke acara musik bergenre reggae, maksud ciya mungkin di negrinya sana belom ada acara yang basisnya kaya di sini. Dan betul aja, baru masuk mereka dah nyari bir. Ya jelas ciya kebingungan, lah wong acara di hall salah satu mall ibukota (memang cukup privat, karna event buat yang punya invitation) dan penuh aparat polisi yang jaga jadi otomatis donk, ga pake neko-neko. Secara bir masih cukup kaku buat di Indonesia dan kalopun ada ya ga gratis. Ok, akhirnya menonton acara tanpa bir, dan mereka masih menikmati, bergoyang bersama dan berteriak seolah mereka mengerti arti bahasanya (karna band lokal). Selsai acara ciya berjanji membelikan masing-masing bule itu 1botol bir. Dan akhirnya menuju salah satu rumah makan yang masih juga di satu area yang juga kebetulan rumah makan langganan ciya, jadi ya otomatis ciya kenal dekat dengan semua karyawan hingga ownernya. Hingga waktu menunjukan pukul 12 malam lebih sekian, ternyata belum datang juga hasrat mereka untuk memeluk guling. Lanjutlah mereka bertiga ke club kecil di daerah situ. Masih, masih sama kok, masih 1 daerah, jaraknya juga cuma 500meteran dari rumah makan PM. Nah, masuklah mereka bertiga ke club kecil ini sebut aja “club 12jam” ternyata, bukan kali pertama mereka nongkrong club ini, terlebih lagi velon. Cukup terkenal bule satu ini. Dateng, belum sempet duduk velon sudah dirangkul cewe-cewe dan entah itu teman velon atau bukan, yang jelas, velon mereka saling kenal yang mengakibatkan kita dapat minuman gratis, dan ya otomatis kita berdua pun kedapetan jatah. Tak lama ada panggilan dari meja ujung “ciyaaa” teriak seorang cowo, ternyata itu temen-temen ciya yang deket dan salah satunya adalah murid di watayo juga, Fian. Tepatnya sih junior ciya di masa sma dan satu di masa kuliah dulu, faldo. Adapula terlihat satu diantara mereka yang berstatus Hubungan Mesra Tanpa Status (HMTS) nya ciya, Beno. Ternyata. Salah satu teman tongkrongan mereka ada yang hobi openbot, dan secara ga langsung ciya juga dapet jatah. Ditambah lagi si teman ini berkelamin cowo. Yang tampak nyaman kalau menuangkan wishkey ke gelas seorang cewe. Beno, cowo yang udah bertobat dari kenakalan masa mudanya yang urak-urakan dan selalu jadi preman. Makanya doi menjadi cukup pendiam kalau sudah di club, tak banyak minum, dan lebih sering menghindar kalo udah melihat ada minuman yang harus diminum secara bergilir hingga habis. Fian, selalu menyodorkan minuman gratis ke ciya. Dan yang lucu adalah Faldo yang berteriak ke ciya untuk minta dikenalin ke jovi, setelah berkenalan jofet bareng dan faldo meneriakan “senggol bacok” berkali-kali walau jovi ga ngerti apa-apa. Cukup annoy sih kalo buat ciya. Tapi apa daya mungkin pengaruh minuman keras. Velon, dari satu meja ke meja lain, selalu memegang gelas baru, entah berapa gelas dia habiskan. Dan sudah cukup mabok tampaknya, velon mendekati ciya lalu berkata ” aku cium kamu” hahaha, dan ya ciya tau situasi itu. Mundur-mundur, velon tepar. Duduk menunduk karna sudah ga kuat lagi atau bahkan sudah ga sadar tepatnya. Ciya-jovi masih asik ngedance bareng. Hingga salah seorang kenalan velon memanggil jovi untuk menanyakan apa velon baik-baik saja disini atau lebih baik untuk pulang. Oke, ciya mengambil mobil di parkiran, dan jovi merangkul velon keluar dari club itu, jelas velon benar-benar mabuk berat. Banyak hal-hal memalukan yang dilakukannya hingga membuat jovi dan ciya tertawa terpingkal-pingkal. 
 
Sampailah akhirnya mereka menggotong velon hingga ke mobil, karna badan velon yang cukup berat, petualangan baru dimulai hari itu, ga ada yang tau dimana velon tinggal!!!!! WTH?? Jovi? Yes, doi cuma tau kalo velon tinggal disalah satu apartemen yang cukup rudet. 
 
Advertisements